Senin, 19 Agustus 2019

KETURUNAN KI PASEK BADAK DI Br. GUNUNG BUDUK

KETURUNAN  KI  PASEK  BADAK  DI  Br. GUNUNG  BUDUK 

Adalah generasi ke III Pasek Tohjiwa Tangguntiti, seorang  “Kesatria Sejati”   
penyelamat warisan sejarah “Ki Pasek Badak”

Om Swastiastu

I. LATAR  BELAKANG 


1. Berawal dari penulisan Sejarah Pasek Tohjiwa Tangguntiti, terungkap data dan fakta bahwa Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Putra Ki Pasek Badak berasal dari Br. Gunung Buduk, sedangkan keturunan Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa) yang ada saat ini di Br. Gunung adalah keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang diutus kembali dari Tangguntiti ke Br. Gunung  Buduk. 

2. Menurut pitutur dari para Pengelingsir keturunan Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa) Br. Gunung Buduk yang diwarisi dan diyakini secara turun temurun: 
  • Dulu setelah Ki Pasek Badak wafat sekitar tahun 1539 Caka atau 1617 Masehi, putranya yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi  meninggalkan Br. Gunung Buduk (“rarud nyawan” atau “rarud ngaba umah”)  menuju daerah Tangguntiti Tabanan. 
  • Setelah beberapa lama Putra Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa Tangguntiti) berkuasa di Tangguntiti dan kondisi sudah kondusif, kakaknya / saudara yang lebih tua  diutus kembali  ke  Br. Gunung Buduk, 
  • Agar jangan lupa dan harus tetap ingat dan subakti kepada leluhur di Pasek Tohjiwa Tangguniti di Br. Jakatebel. 


3. Keberadaan Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang merupakan Putra Ki Pasek Badak bersaudara dengan adiknya yang tinggal di Br. Sedahan Mengwi yang dulu diambil oleh Raja Mengwi setelah Ki Pasek Badak wafat, sedangkan kakaknya (Pasek Tohjiwa Tangguntiti) yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi meninggalkan Br. Gunung Buduk menuju dan atau berkuasa di Desa Tangguntiti :   

a. Setelah berhasil mengalahkan “Para Ngakan” yang sebelumnya menguasai daerah Tangguntiti yang tidak mau tunduk kepada Raja Tabanan, akhirnya Raja Tabanan memberikan kewenangan kepada Pasek Tohjiwa Tangguntiti untuk menguasai, mengurus dan mengatur warga dan wilayah Tangguntiti. 

b. Dengan berjalannya waktu Pasek Tohjiwa Tangguntiti mempunyai 2 (dua) putra, sehingga mendirikan rumah tempat tinggal sekitar tahun 1650 Masehi sebagai “Umah Tua” yang disebut “Jeroan”  yang memakai atribut “Puri” sebagai simbol pemimpin / penguasa wilayah, yakni : 

1). Jeroan Gede Tangguntiti untuk Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih muda. Dan selanjutnya Mendirikan Dadya Agung Pasek Tohjiwa Tangguntiti di Br. Tangguntiti. 

2). Jeroan Gede Jakatebel untuk Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih tua. Dan selanjutnya mendirikan Dadya Agung Pasek Tohjiwa Tangguntiti di Br. Jakatebel. 

4. Memperhatikan  semua  hal  tersebut penulis merasa tertarik untuk menelusuri data  dan  fakta  keberadaan  keturunan  Ki  Pasek  Badak  (Pasek Tohjiwa)  di Br. Gunung Buduk.  Bertepatan  dengan  piodalan  di  Pura Gunung Sari (yang berfungsi sebagai Pura Kawitan) pada hari Rabu (Umanis Prangbakat) tanggal 27  Maret  2019,   penulis  bersama adik Nyoman  Ardika  (“Sengap”)  hadir ngaturan  bakti di Pelinggih Ratu Nyoman Pengenter Jagat,  Pura Gunung Sari dan  Pelinggih  Ida  Ratu  Tumbal  Segara.   Saat  berada  di Pura Gunung  Sari datang  Jero  Mangku De  Nik  yang  juga baru  pertama  kali   datang   ngaturan bakti,    sehingga  sempat  sepintas  ngobrol   tentang  keberadaan keturunan   Pasek  Tohjiwa Tangguntiti  di  Br. Gunung   Buduk.

II. DATA  DAN  FAKTA  WARISAN  SEJARAH 


1. Berdasarkan Babad Pasek dan khususnya “PRASASTI  Ki Pasek Tohjiwa tereh Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa, katurunan Kyayi Agung Pemacekan, prati santanan Sang Sapta Pandhita wyadin Sang Sapta Rsi Mpu Ketek, suthan ira Mpu Gnijaya” , disebutkan bahwa Ki Pasek Badak  atau Ki Pasek Wanda adalah keturunan dari I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya yang merupakan keturunan dari Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa yang menetap di Kejiwa Karangasem sebagai Amancabhumi  tahun 1257 Caka atau 1335 Masehi. 

2. Menurut pitutur Pengelingsir keturunan Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa) di Br. Gunung Buduk yang diwarisi dan diyakini secara turun temurun bahwa setelah Ki Pasek Badak wafat sekitar tahun 1539 Caka atau 1617 Masehi, putranya yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi meninggalkan Br. Gunung Buduk (“rarud nyawan” atau “rarud ngaba umah”) menuju Tangguntiti. Setelah beberapa lama dan kondisi telah kondusif, salah satu keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti (kakaknya / saudara yang lebih tua) diutus kembali ke Br. Gunung Buduk dan sampai saat ini masih subakti di Dadya Agung Pasek Tohjiwa Tangguntiti di Br. Jakatebel. 

3. Berdasarkan data dan fakta serta latar belakang tersebut diatas  jelas bahwa : 


a. Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Putra Ki Pasek Badak  berasal dari Br. Gunung Buduk. Walaupun adiknnya yang kini tinggal di Br. Sedahan Mengwi yang dulu diambil oleh Raja Mengwi, kini kawitannya di Br. Pasekan Buduk dengan pedarman Mengwi di Besakih. Perbedaan tempat kawitan dan pedarman tersebut bisa terjadi karena saat itu adanya pengaruh kondisi sosial politik sehingga ada unsur kepentingan dan atau kecendrungan untuk mengacaukan / mengaburkan keadaan. 

b. Keturunan Ki Pasek Badak di Br. Gunung Buduk saat ini adalah keturunan Pasek Tohjiwa yang merupakan generasi ke III  Pasek Tohjiwa Tangguntiti dari Jeroan Gede Jakatebel. (Diperkirakan sekitar tahun 1700 Masehi diutus kembali ke Br. Gunung Buduk). 

4. Adanya kata-kata diutus kembali  ke Br. Gunung Buduk dari Tangguntiti, berarti ada sesuatu yang penting untuk diselamatkan sebagai warisan leluhur. Berdasarkan data dan fakta di Br. Gunung bahwa belum terungkap adanya “Umah Tua” dan hanya berupa peninggalan Pelinggih dan Pura serta hamparan tanah milik leluhur. 

5. Warisan sejarah leluhur di Br. Gunung  Buduk berupa Pelinggih dan Pura: 

a. Pelinggih Ratu Nyoman Pengenter Jagat. 
b. Pelinggih Ida Ratu Tumbal Segara (disebelahnya didirikan Pura Panti). 
c. Pura Gunung Sari (saat ini berfungsi sebagai Pura Kawitan). 

Disamping tempat suci tersebut juga ada peninggalan Leluhur yang membuat kuburan / setra khusus disebut “Setra Wayah” dan disbelahnya ada “Pura Dalem Wayah”. Setra yang dibuat oleh Leluhur tersebut berbeda lokasi/ tempat dengan 2 (dua) setra lainnya : Setra Tunon / Pura Dalem  Tunon dan Setra Gede / Pura Dalem Gede. (Setra Wayah / Pura Dalem Wayah ini sebagai suatu ciri Setra / Pura tua didirikan paling awal yang bersifat khusus pertanda seorang Perintis / Penguasa wilayah ). 

6. Simbol suci yang agak spesifik di Pura Gunung Sari adalah adanya “Pelinggih  Gedong Rong Lima”  yang selama ini disebut “Tetepan”

a. Menurut penulis kuat dugaan bahwa itu tempat pemujaan/ stana 5 (lima) Ida Bhatara Lelangit: Mpu Gnijaya, Mpu Ketek, Kyayi Agung Pemacekan, Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa dan I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya. Dengan demikian berpegang pada sebutan “Tetepan” bahwa  Ki Pasek Badak adalah keturunan Pasek Tohjiwa. 

b. Dan atau tempat pemujaan / stana 5 (lima) Ida Bhatara yang dikenal dengan sebutan Panca Tirtha (Panca Sanak) yakni : Mpu Gni Jaya,  Mpu Mahameru,  Mpu Ghana,  Mpu Kuturan  dan  Mpu Beradah. 

c. Sebutan “Tetepan” dapat ditafsirkan dengan beragam makna : ingat jangan lupa dengan Ida Bhatara Lelangit / ajegkan / jangan rubah tempat ini karena sebagai pijakan awal / ingat tempat ini sebagai pusat jagat raya (Gunung). 

7. Kemiripan dan atau keterkaitan simbol suci warian Leluhur di Br. Gunung  Buduk dengan yang ada di Tangguntiti, yakni adanya : 

a. Pura Luhur Semulungan di Enjung Segara, dengan makna dan fungsi ”Enjung Semulungan sebagai pijakan awal penentuan arah dan tujuan”. (ada kaitan dengan Ratu Tumbal Segara)
b. Pura Dukuh Sakti Sapujagat di Br. Jakatebel, dengan makna dan fungsi “Jakatebel sebagai tempat kekuatan pemersatu dan pengatur strategi” (ada kaitan dengan Pengenter Jagat)
c. Pura Miu di Br. Tangguntiti, dengan makna dan fungsi “Miu sebagai pusat kekuatan pengendali jagat raya”. (ada kaitan dengan simbol  Gunung)
d. Pelinggih Sang Penuwen Jagat sebagai pemujaan Ratu Pusering Jagat di Jeroan Gede Jakatebel. (ada kaitan dengan Pengenter Jagat)

8. Dari simbol suci di  kedua  tempat  baik di Br. Gunung maupun di Tangguntiti ada  makna dan fungsi  yang  bersifat  sosio religius yakni  “Miu”  merupakan bahasa  kawi  (Jawa kuno)  yang  berarti  “Meru”.  Berdasarkan Kamus  Besar Bahasa Indonesia bahwa arti kata “Meru” adalah “Gunung”dalam mitologi Hindu tempat pesemayaman para Dewa dan makhluk kedewaan serta menjadi pusat jagat raya. 

9. Akibat pengaruh sosial politik saat itu (ada kecendrungan meniadakan kebesaran / kehebatan Ki Pasek Badak), sehingga saat ini muncul beragam versi kawitan Pasek Badak di Buduk yakni ada 4 (empat) kawitan : 
a. Tiga tempat Kawitan Pasek Badak (yang ada keterkaitan pengaruh  Raja Puri Mengwi dan ada yang tidak). 
b. Satu tempat Kawitan Pasek Badak / Pasek Tohjiwa di Br. Gunung  (yang  tidak mau tunduk kepada Raja Puri Mengwi). 

III. PENDEKATAN  ALUR  PIKIR 


1. Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Putra Ki Pasek Badak atau Ki Pasek Wanda (sebagai keturunan dari I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya yang merupakan keturunan dari Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa) yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi, meninggalkan Br. Gunung Buduk menuju Tangguntiti. 

2. Keturunan Ki Pasek Badak di Br. Gunung  Buduk saat ini adalah keturunan Pasek Tohjiwa yang merupakan  generasi ke III  Pasek Tohjiwa Tangguntiti dari Jeroaan Gede Jakatebel yang diutus kembali untuk menyelamatkan warisan sejarah Ki Pasek Badak. 

3. Kemiripan dan atau keterkaitan makna dan fungsi simbol suci yang ada di Tangguntiti dengan yang ada di Br. Gunung Buduk mempertegas  adanya hubungan sosio religius sebagai simbol / ciri bahwa Ki Pasek Badak dan atau Putranya (Pasek Tohjiwa Tangguntiti) adalah seorang kesatria sejati sebagai penguasa / pemimpin wilayah. 

4. Adanya Pelinggih Gedong Rong Lima  yang disebut “Tetepan” sebagai tempat pemujaan / stana “Ida Bhatara Lelangit” dan atau  “Panca Tirtha” mempertegas bahwa Ki Pasek  Badak  adalah  keturunan  Pasek  Tohjiwa. 

5. Memperhatikan simbol suci warian leluhur di Br. Gunung Buduk yang mengandung makna dan fungsi sebagai ciri penguasa / pemimpin wilayah, dan apalagi ada keterkaitannya dengan yang ada di Tangguntiti, maka kuat dugaan bahwa Br. Gunung Buduk  pernah sebagai Pusat Kekuasaan Pemerintahan Ki Pasek Badak  dan  atau  Putra Ki Pasek Badak.  

6. Berdasarkan semua hal tersebut diatas,  kedepan “Pura Gunung Sari” perlu ditingkatkan makna dan fungsinya sebagai “Pura Agung Ki Pasek Badak”, guna menjawab perbedaan tafsir yang berkembang saat ini tentang keberadaan Ki Pasek Badak dalam beragam versi. 

7. Untuk menyamakan persepsi perlu kiranya diadakan pengkajiaan lebih dalam karena penulis menelusuri memakai pendekatan  logika  dari data dan fakta serta makna dan fungsi simbol suci yang ada, sebagai gugahan untuk dibahas lebih lanjut.  
a. Penulis menyadari bahwa mengungkap keberadaan masa lampau apalagi ada pengaruh sosial politik saat itu yang ada kecendrungan mengaburkan / meniadakan kebesaran / kehebatan Ki Pasek Badak, sehingga bukan pekerjaan mudah tanpa melalui  nuansa “ritma jiwa batiniah” yang sama dalam pendekatan logika dan perenungan batin. 
b. Semoga Ida Bhatara Lelangit memberikan sinar suci dan membukakan jalan yang terang agar semua keturunan Ki Pasek Badak bersatu dalam satu kesatuan kebesaran / kehebatan Ki Pasek Badak. 


Om Shanti Shanti Shanti Om 

                                                                        Tangguntiti,  29  Maret  2019
Pengelingsir Jeroan Gede Jakatebel



   Ir. I  GEDE  NYOMAN  WIRANATHA, MM. 


Minggu, 04 Agustus 2019

RINGKASAN  SEJARAH  PASEK  TOHJIWA  TANGGUNTITI
Materi untuk sosialisasi dan pencerahan kepada semua semeton yang terkait.

" Om Swastiastu " 

1. PASEK TOHJIWA TANGGUNTITI Seorang “Kesatria” Sejati berwenang mengambil peran “Brahmana” 

a. Dari data, fakta dan simbol suci yang ada bahwa Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Seorang  “Kesatria Sejati”  yang  berwenang  mengambil  peran “Brahmana”. 
b. Atas jasanya mempersatukan warga dan wilayah, Raja Tabanan memberikan kewenangan, sehingga sebagai penata letak tata nilai kehidupan sosial budaya dan Agama di wilayah Tangguntiti. 
c. Perjuangannya bagaikan “Datang membawa sejarah, dan tiba membuat sejarah”

2. PASEK  TOHJIWA  TANGGUNTITI  ADALAH  PUTRA  KI PASEK  BADAK 

a. Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Putra Ki Pasek Badak atau Ki Pasek Wanda sebagai keturunan dari I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya yang merupakan keturunan dari Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa. 
b. Tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi, selanjutnya meninggalkan Buduk menuju Tangguntiti ( Adiknya diambil Raja Mengwi kini tinggal di Br. Sedahan Mengwi). 

3. PERJALANAN   SEJARAH 

Setelah Ki Pasek Badak wafat tahun 1539 Caka atau 1617 Masehi, salah satu Putranya menuju Tangguntiti : 
a. ENJUNG  SEMULUNGAN;  sebagai Pijakan Awal Penentuan Arah dan Tujuan. 
Atas ijin Raja Tabanan di tempat ini mengadakan yoga semadi untuk memasuki wilayah Tangguntiti. 
b. JAKATEBEL;  sebagai Kekuatan Pemersatu dan  Pengatur Strategi. 
Di tempat ini mendapatkan kekuatan “Senjata Sapujagat” untuk mengadakan perundingan mempersatukan wilayah dan warga yang sebelumnya dikusai oleh “Para Ngakan”, dan atas jasa “Patih Jati” dalam proses perundingan diberi penghormatan yang kini disebut “Jero Gede Teges”
c. MIU;  sebagai Pusat Kekuatan Pengendali Jagat  Raya. Dari tempat ini mendapat kekuatan pengaturan tata letak mendirikan tempat suci, pengaturan penempatan warga, nama Desa dan Banjar serta ditemukan “Gong Siem” yang kini disebut “Jero Gede Siem”. 

4. PEMBERIAN  KEWENANGAN  DARI  RAJA  TABANAN 

Atas jasa Pasek Tohjiwa Tangguntiti mempersatukan warga dan wilayah, Raja Tabanan memberi kewenangan : 
a. Menguasai, mengatur dan mengurus warga dan wilayah Desa Tangguntiti. 
b. Memakai atribut /simbol Puri pada upacara yadnya dan tempat tinggal (“Umah Tua”  atau  “Jeroan” yakni:  Jeroan Gede Tangguntiti dan Jeroan Gede Jakatebel ). 
c.  Sebagai “Pengabih” atau  Pendamping Raja Tabanan dalam menjalankan pemerintahan.   

5. HUBUNGAN DENGAN PURI AGUNG TABANAN DAN PURI GEDE KERAMBITAN 

a. Sebagai  “Pengabih”  Raja 
1).  Pendamping Raja Tabanan dan Raja Kerambitan dalam menangani pemerintahan.  
2). Tahun 1906 bersama Raja Kerambitan berjaga di Beringkit agar Puri Tabanan  tidak diserang Belanda, serta ikut mengawal Raja Tabanan pertemuan di Denpasar. 

b. Raja  Kerambitan  Diisi  Nama : Pasek  
Putra Raja dari Istri asal Pasek Tohjiwa Tangguntiti dari Jeroan Gede Tangguntiti   dinobatkan jadi Raja : Ida  Anglurah  Pasek. 

c. Hubungan  Koordinasi  Dan  Konsultasi  
1).  Jeroan  Gede  Jakatebel memiliki :   
a). Tempat Persinggahan 
Jero Kompyang sebagai tempat persingahan saat mengadakan konsultasi dan koordinasi ke Puri Agung dan Kaleran Tabanan, sehingga sampai terjadi keluarga Jero Kompyang mengambil istri dari keluarga Jeroan Gede Jakatebel.   
b). Tempat Penghubung Salah satu dari keturunan keluarga Jeroan Gede Jakatebel ditempatkan berdekatan dengan Puri Agung Tabanan sebagai penghubung untuk memperlancar komunikasi dengan Puri. 
2).  Jeroan  Gede   Tangguntiti memiliki :  
a). Tempat Persinggahan 
Jero Kajanan sebagai tempat persingahan saat mengadakan konsultasi dan koordinasi ke Puri, sehingga sampai terjadi keluarga Jero Kajanan mengambil istri dari keluarga Jeroan Gede Tangguntiti   
b). Tempat Penghubung Salah satu dari keturunan keluarga Jeroan Gede Tangguntiti ditempatkan berdekatan dengan Puri Gede Kerambitan sebagai penghubung untuk memperlancar komunikasi dengan Puri. 

6. PASEK  TOHJIWA  TANGGUNTITI  SEBAGAI  PENATA  LETAK  TATA  NILAI   SOSIAL  BUDAYA  DAN  AGAMA 
(Diperkirakan th 1650 M  setelah  berdirinya  Puri  Gede  Kerambitan th  1630 M). 

a. Berdirinya 5 (lima) tempat suci pokok yang dibangun paling awal yakni : Pura Luhur Semulungan, Pura Dukuh Sakti Sapujagat, Pura Miu, Jeroan Gede Tangguntiti dan Jeroan Gede Jakatebel. 
b. Berdirinya Desa Tangguntiti Raya dan Subak Lanyah Delod Jalan. 
c. Berdirinya Pura Tri Kahyangan dan Ngider Buana serta Geriya Gede Tangguntiti. 

7. BERDIRINYA  JEROAN  PASEK  TOHJIWA  TANGGUNTITI 

Mengingat Pasek Tohjiwa Tangguntiti mempunyai 2 (dua) putra, maka didirikan  2 (dua) “Umah Tua” atau “Jeroan”: 
a. Jeroan Gede Tangguntiti di Br. Tangguntiti ditempati oleh Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih muda. 
b. Jeroan Gede Jakatebel di Br. Jakatebel ditempati oleh Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih tua. 

8. PEMBAGIAN  TUGAS DAN FUNGSI JEROAN PASEK TOHJIWA TANGGUNTITI 

a. Jeroan Gede Tangguntiti ( Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih muda ) 
1). Dibawah koordinasi Puri Gede Kerambitan. 
2). Mengurus bidang pemerintahan.
3). Mengkoordinasikan pengelolaan pura yang berada disebelah utara Pura Dalem Gede Tangguntiti. 
b. Jeroan Gede Jakatebel ( Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih tua ). 
1). Dibawah koordinasi Puri Kaleran Tabanan. 
2). Mengurus bidang  sosial budaya dan Agama (termasuk menyimpan Gong warisan). 
3). Mengkoordinasikan pengelolaan pura dari Pura Dalem Gede Tangguntiti ke selatan. 

9. NAMA  DESA  TANGGUNTITI   DAN  NAMA  BANJAR 

a. Pada saat “Para Ngakan” bekuasa belum ada sumber data yang menyebut nama desanya. 
b. Setelah Putra Ki Pasek Badak menemukan “Miu sebagai pusat kekuatan pengendali jagat raya”, barulah diberi nama Desa Tangguntiti,  bermakna telah dititik ujung (“tanggu”) berakhirnya perjalanan dan  tempat terakhir berdoa (“ngerastiti”).  Sejak saat itu disebut Pasek (Tohjiwa) Tangguntiti. 
c. Banjar  yang  lebih  awal diberi nama :  Tangguntiti, Jakatebel,  Beraban,  Teges, Nyampuan  dan menyusul Banjar lainnya. 

10. BERDIRINYA  DESA  TANGGUNTITI 
a.  Awal mulanya Desa Tangguntiti  menjadi satu kesatuan, kini telah mekar menjadi :  
1).  Desa Tangguntiti.  
2).  Desa Beraban.  
3).  Desa Tegalmengkeb. 
b. Semenjak ada pemisahan Desa Dinas dan Desa Adat,maka tugas danfungsi Pasek  Tohjiwa Tangguntiti di Jeroan Gede Tangguntiti dan Jeroan Gede Jakatebel terbatas sebagai “Tedung Desa” Adat Tangguntiti. 

11. KATEGORI / KLASIFIKASI WARGA YANG MENEMPATI  WILAYAH   TANGGUNTITI 

Bersamaan dengan berdirinya Desa Tangguntiti dilakukan pengaturan penempatan warga  oleh Pasek Tohjiwa Tangguntiti, di bagi dalam 3 (tiga) kategori / klasifikasi : 
a.  Sebelum Penataan Wilayah  
Semula wilayah ini dikuasai / ditempati oleh “Para Ngakan” dan setelah Pasek Tohjiwa Tangguntiti datang dan berhasil mengadakan perundingan, maka “Para Ngakan” ditempatkan di Br. Tegalmengkeb, Br. Kebon dan Br. Temukuaya. 
b. Pada Saat Penataan Wilayah 
Kedatangan Pasek Tohjiwa Tangguntiti diikuti/ didampingi  oleh keluarga / semeton dari Buduk (yang telah diangkat menjadi “saudara angkat”) dan keluarga lainnya serta adanya bala bantuan dari : Pasek Tangkas  (membantu perundingan)), Pasek Gaduh, Pasek Kebayan, Arya dan Bujangga (membantu tata wilayah)
1).  Warga / keluarga Pasek Tohjiwa Tangguntiti dan saudara angkatnya menempati  Br. Tangguntiti, Br. Jakatebel, Br. Beraban (Br. Pondok), Br. Teges, Br. Nyampuan, Br. Gerombong dan Br. Kelecung.    
2).  Warga / keluarga lainnya menempati Br. Batanbuah, Br. Temukuaya, Br. Nyampuan, Br. Teges, Br. Beraban dan Br. Gerombong. 
c.   Setelah Penataan Wilayah 
Raja Tabanan dan Raja Kerambitan kembali menambah / menempatkan warga : 
1). Warga / keluarga yang mempunyai tugas dan fungsi tertentu terkait dengan pengaturan tata nilai sosial budaya dan Agama. 
2).  Warga /keluarga yang karena ada masalah atau konflik ditempat asalnya atau tempat lain, dan atau karena alasan tertentu sehingga diselamatkan dan ditampung di  wilayah Tanggutiti. 

12. BERDIRINYA  PURA  TRI  KAHYANGAN  DAN  PURA  NGIDER  BUANA 

Tengah  (Miu, Puseh dan Desa)Timur  (Dalem Gede); Tenggara  (Dukuh Sakti Sapujagat)Selatan (Luhur Semulungan dan Jero Gede Teges)Barat Daya  (Sarin Buana)Barat (Aseman)Barat Laut  (Ulun Suwi); Utara (Bedugul Wates dan  Ulu Desa) dan  Timur Laut ( Sadha dan Manik Janglap)

13. BERDIRINYA  GERIYA  GEDE  TANGGUNTITI 
Geriya Gede Tangguntiti merupakan perpaduan Leluhur Pasek Tohjiwa Tangguntiti dengan Leluhur Ida Bagus Manuaba Geriya Gede Selemadeg dalam penyatuan perujudan ”Pandita Siwa” sebagai manifestasi dari pemujaan  “Sang Hyang Brahma Aji” atau  “Sang Siwa” (manunggal ngadegan Siwa). Dengan demikian pengempon dan pengemong Geriya Gede Tangguntiti adalah semua keluarga keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti dan keluarga Ida Bagus Manuaba. 
Sejak tahun 2005 mulai mempersiapkan dan ngadegan Sulinggih Ida Pandita Mpu dengan mendirikan Geriya : 
a. Geriya Titi Sari, Saren Kaja Jeroan Gede Tangguntiti di Br. Tangguntiti. 
b. Geriya Teguh Wana di Br. Tangguntiti. 
c. Geriya Uma Sari di Br. Jakatebel. 

14. KETURUNAN   PASEK  TOHJIWA  TANGGUNTITI 
Keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti menyebar di kabupaten / kota di Bali
a. Keturunan  Jeroan  Gede  Tangguntiti 
Menyebar di Kabupaten Tabanan, Buleleng, Bangli dan Jembrana. 
b. Keturunan  Jeroan  Gede  Jakatebel 
Menyebar di Kabupaten Tabanan, Buleleng, Jembrana, Badung dan Kota Denpasar. 

15. PASEK  TOHJIWA  TANGGUNTITI  SEBAGAI  PENYELAMAT  WARISAN  KI PASEK  BADAK 
a. Pasek Tohjiwa Tangguntiti berasal dari Br. Gunung Buduk “rarud ngabe umah” / “rarud nyawan” ke Tangguntiti. 
b. Putra Ki Pasek Badak yang lebih tua ke Tangguntiti, adiknya diambil Raja Mengwi (di Br. Sedahan Mengwi). 
c. Keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti dari Jeroaan Gede Jakatebel  diutus kembali ke Br. Gunung Buduk sebagai penyelamat warisan Ki Pasek Badak. 
d. “Br. Gunung sebagai Pusat Pemerintahan Ki Pasek Badak”. 
e. Karena pengaruh sosial politik saat itu (ada kecendrungan meniadakan kebesaran Ki Pasek Badak), kini  muncul beragam versi yakni  ada 4 (empat) Kawitan Pasek Badak:  
1). Tiga tempat Kawitan Pasek Badak di Buduk (yang ada keterkaitan pengaruh Raja Mengwi dan ada yang tidak ) dan; 
2)  Satu tempat  Kawitan Pasek Badak/Tohjiwa di Br. Gunung Buduk (yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi). 


TAMBAHAN INFORMASI 
Politik Kebudayaan dalam Pelestarian Warisan Budaya dan Adat Istiadat 

1. Tata nilai sosial budaya dan Agama  di Bali adalah bagian dari warisan budaya dan adat istiadat.
2. Berbicara keberadaan tata nilai sosial budaya dan Agama  dalam bingkai Puri, Geriya, Jeroan dan sebutan lain yang terkait masa lampau sering dibenturkan dengan predikat negatif  karena dianggap feodal  dan tidak demokratis. 

3. Mungkin ada yang tidak sadar diantara kita bahwa "apa yang kita warisi dan kita laksanakan terhadap tata nilai sosial budaya dan Agama saat ini di Bali adalah  bagian dari produk feodal". 

4. Feodal adalah sistem sosial di Eropa pada abad pertengahan yang ditandai oleh kekuasaan yg besar ditangan tuan tanah. (sistem yang memberikan kekuasaan yang besar kepada kaum bangsawan / sistem yang mengagungkan pangkat/jabatan). 

5. Demokrasi : sistem pemerintahan yang rakyatnya turut serta memerintah melalui perwakilannya.  (persamaan hak, kewajiban dan perlakuan)

6. Demokrasi Pancasila : azas kekeluargaan dan musyawarah mufakat; sistem persetujuan rakyat; menjamin kebebasan individu / kelompok (tak mutlak); tidak ada dominasi mayoritas/ minoritas; dan menjunjung keberagaman tata nilai budaya. 

7. Negara mengakui, menghormati dan melindungi  pelestarian warisan budaya dan adat istiadat : UUD 45; UU No 5 Th 2017 dan Peraturan Daerah Provinsi Bali. 

8. Melestarikan warisan budaya leluhur adalah perbuatan mulia untuk memberi penghormtan kepada  keberadaan leluhur. 

9.Pelestarian dan pengembangan nilai-nilai luhur budaya sebagai  peningkatan citra bangsa dalam memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa. 

10.  Dari 3 (tiga) unsur pokok prilaku organisasi yakni : hirarki, disiplin dan loyalitas, sudah mendesak perlu ada perbedaan bentuk organisasi yang mengurus tata kelola pemerintahan yang memakai hirarki “atas bawah” dengan  organisasi yang mengurus tata nilai sosial budaya dan Agama yang harus memakai hirarki “hulu teben” karena terkait dengan aspek “sosio genealogis” (Dilema yang sedang terjadi di Bali berawal dari eksklusivitas identitas tanpa “hulu teben” muncul konflik baru dan akibat konflik baru muncul Pura baru, begitu sebaliknya). 

" Om Shanti Shanti Shanti Om " 

Tangguntiti,  18  Mei  2019
Pengelingsir Jeroan Gede Jakatebel


Ir. IGN  WIRANATHA, MM.

KETURUNAN KI PASEK BADAK DI Br. GUNUNG BUDUK

KETURUNAN  KI  PASEK  BADAK  DI  Br. GUNUNG  BUDUK  Adalah generasi ke III Pasek Tohjiwa Tangguntiti, seorang  “Kesatria Sejati”     pe...