KETURUNAN KI PASEK BADAK DI Br. GUNUNG BUDUK
Adalah generasi ke III Pasek Tohjiwa Tangguntiti, seorang “Kesatria Sejati”
penyelamat warisan sejarah “Ki Pasek Badak”
Om Swastiastu
I. LATAR BELAKANG
1. Berawal dari penulisan Sejarah Pasek Tohjiwa Tangguntiti, terungkap data dan fakta bahwa Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Putra Ki Pasek Badak berasal dari Br. Gunung Buduk, sedangkan keturunan Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa) yang ada saat ini di Br. Gunung adalah keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang diutus kembali dari Tangguntiti ke Br. Gunung Buduk.
2. Menurut pitutur dari para Pengelingsir keturunan Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa) Br. Gunung Buduk yang diwarisi dan diyakini secara turun temurun:
- Dulu setelah Ki Pasek Badak wafat sekitar tahun 1539 Caka atau 1617 Masehi, putranya yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi meninggalkan Br. Gunung Buduk (“rarud nyawan” atau “rarud ngaba umah”) menuju daerah Tangguntiti Tabanan.
- Setelah beberapa lama Putra Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa Tangguntiti) berkuasa di Tangguntiti dan kondisi sudah kondusif, kakaknya / saudara yang lebih tua diutus kembali ke Br. Gunung Buduk,
- Agar jangan lupa dan harus tetap ingat dan subakti kepada leluhur di Pasek Tohjiwa Tangguniti di Br. Jakatebel.
3. Keberadaan Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang merupakan Putra Ki Pasek Badak bersaudara dengan adiknya yang tinggal di Br. Sedahan Mengwi yang dulu diambil oleh Raja Mengwi setelah Ki Pasek Badak wafat, sedangkan kakaknya (Pasek Tohjiwa Tangguntiti) yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi meninggalkan Br. Gunung Buduk menuju dan atau berkuasa di Desa Tangguntiti :
a. Setelah berhasil mengalahkan “Para Ngakan” yang sebelumnya menguasai daerah Tangguntiti yang tidak mau tunduk kepada Raja Tabanan, akhirnya Raja Tabanan memberikan kewenangan kepada Pasek Tohjiwa Tangguntiti untuk menguasai, mengurus dan mengatur warga dan wilayah Tangguntiti.
b. Dengan berjalannya waktu Pasek Tohjiwa Tangguntiti mempunyai 2 (dua) putra, sehingga mendirikan rumah tempat tinggal sekitar tahun 1650 Masehi sebagai “Umah Tua” yang disebut “Jeroan” yang memakai atribut “Puri” sebagai simbol pemimpin / penguasa wilayah, yakni :
1). Jeroan Gede Tangguntiti untuk Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih muda. Dan selanjutnya Mendirikan Dadya Agung Pasek Tohjiwa Tangguntiti di Br. Tangguntiti.
2). Jeroan Gede Jakatebel untuk Putra Pasek Tohjiwa Tangguntiti yang lebih tua. Dan selanjutnya mendirikan Dadya Agung Pasek Tohjiwa Tangguntiti di Br. Jakatebel.
4. Memperhatikan semua hal tersebut penulis merasa tertarik untuk menelusuri data dan fakta keberadaan keturunan Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa) di Br. Gunung Buduk. Bertepatan dengan piodalan di Pura Gunung Sari (yang berfungsi sebagai Pura Kawitan) pada hari Rabu (Umanis Prangbakat) tanggal 27 Maret 2019, penulis bersama adik Nyoman Ardika (“Sengap”) hadir ngaturan bakti di Pelinggih Ratu Nyoman Pengenter Jagat, Pura Gunung Sari dan Pelinggih Ida Ratu Tumbal Segara. Saat berada di Pura Gunung Sari datang Jero Mangku De Nik yang juga baru pertama kali datang ngaturan bakti, sehingga sempat sepintas ngobrol tentang keberadaan keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti di Br. Gunung Buduk.
II. DATA DAN FAKTA WARISAN SEJARAH
1. Berdasarkan Babad Pasek dan khususnya “PRASASTI Ki Pasek Tohjiwa tereh Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa, katurunan Kyayi Agung Pemacekan, prati santanan Sang Sapta Pandhita wyadin Sang Sapta Rsi Mpu Ketek, suthan ira Mpu Gnijaya” , disebutkan bahwa Ki Pasek Badak atau Ki Pasek Wanda adalah keturunan dari I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya yang merupakan keturunan dari Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa yang menetap di Kejiwa Karangasem sebagai Amancabhumi tahun 1257 Caka atau 1335 Masehi.
2. Menurut pitutur Pengelingsir keturunan Ki Pasek Badak (Pasek Tohjiwa) di Br. Gunung Buduk yang diwarisi dan diyakini secara turun temurun bahwa setelah Ki Pasek Badak wafat sekitar tahun 1539 Caka atau 1617 Masehi, putranya yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi meninggalkan Br. Gunung Buduk (“rarud nyawan” atau “rarud ngaba umah”) menuju Tangguntiti. Setelah beberapa lama dan kondisi telah kondusif, salah satu keturunan Pasek Tohjiwa Tangguntiti (kakaknya / saudara yang lebih tua) diutus kembali ke Br. Gunung Buduk dan sampai saat ini masih subakti di Dadya Agung Pasek Tohjiwa Tangguntiti di Br. Jakatebel.
3. Berdasarkan data dan fakta serta latar belakang tersebut diatas jelas bahwa :
a. Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Putra Ki Pasek Badak berasal dari Br. Gunung Buduk. Walaupun adiknnya yang kini tinggal di Br. Sedahan Mengwi yang dulu diambil oleh Raja Mengwi, kini kawitannya di Br. Pasekan Buduk dengan pedarman Mengwi di Besakih. Perbedaan tempat kawitan dan pedarman tersebut bisa terjadi karena saat itu adanya pengaruh kondisi sosial politik sehingga ada unsur kepentingan dan atau kecendrungan untuk mengacaukan / mengaburkan keadaan.
b. Keturunan Ki Pasek Badak di Br. Gunung Buduk saat ini adalah keturunan Pasek Tohjiwa yang merupakan generasi ke III Pasek Tohjiwa Tangguntiti dari Jeroan Gede Jakatebel. (Diperkirakan sekitar tahun 1700 Masehi diutus kembali ke Br. Gunung Buduk).
4. Adanya kata-kata diutus kembali ke Br. Gunung Buduk dari Tangguntiti, berarti ada sesuatu yang penting untuk diselamatkan sebagai warisan leluhur. Berdasarkan data dan fakta di Br. Gunung bahwa belum terungkap adanya “Umah Tua” dan hanya berupa peninggalan Pelinggih dan Pura serta hamparan tanah milik leluhur.
5. Warisan sejarah leluhur di Br. Gunung Buduk berupa Pelinggih dan Pura:
a. Pelinggih Ratu Nyoman Pengenter Jagat.
b. Pelinggih Ida Ratu Tumbal Segara (disebelahnya didirikan Pura Panti).
c. Pura Gunung Sari (saat ini berfungsi sebagai Pura Kawitan).
Disamping tempat suci tersebut juga ada peninggalan Leluhur yang membuat kuburan / setra khusus disebut “Setra Wayah” dan disbelahnya ada “Pura Dalem Wayah”. Setra yang dibuat oleh Leluhur tersebut berbeda lokasi/ tempat dengan 2 (dua) setra lainnya : Setra Tunon / Pura Dalem Tunon dan Setra Gede / Pura Dalem Gede. (Setra Wayah / Pura Dalem Wayah ini sebagai suatu ciri Setra / Pura tua didirikan paling awal yang bersifat khusus pertanda seorang Perintis / Penguasa wilayah ).
6. Simbol suci yang agak spesifik di Pura Gunung Sari adalah adanya “Pelinggih Gedong Rong Lima” yang selama ini disebut “Tetepan” :
a. Menurut penulis kuat dugaan bahwa itu tempat pemujaan/ stana 5 (lima) Ida Bhatara Lelangit: Mpu Gnijaya, Mpu Ketek, Kyayi Agung Pemacekan, Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa dan I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya. Dengan demikian berpegang pada sebutan “Tetepan” bahwa Ki Pasek Badak adalah keturunan Pasek Tohjiwa.
b. Dan atau tempat pemujaan / stana 5 (lima) Ida Bhatara yang dikenal dengan sebutan Panca Tirtha (Panca Sanak) yakni : Mpu Gni Jaya, Mpu Mahameru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Beradah.
c. Sebutan “Tetepan” dapat ditafsirkan dengan beragam makna : ingat jangan lupa dengan Ida Bhatara Lelangit / ajegkan / jangan rubah tempat ini karena sebagai pijakan awal / ingat tempat ini sebagai pusat jagat raya (Gunung).
7. Kemiripan dan atau keterkaitan simbol suci warian Leluhur di Br. Gunung Buduk dengan yang ada di Tangguntiti, yakni adanya :
a. Pura Luhur Semulungan di Enjung Segara, dengan makna dan fungsi ”Enjung Semulungan sebagai pijakan awal penentuan arah dan tujuan”. (ada kaitan dengan Ratu Tumbal Segara).
b. Pura Dukuh Sakti Sapujagat di Br. Jakatebel, dengan makna dan fungsi “Jakatebel sebagai tempat kekuatan pemersatu dan pengatur strategi”. (ada kaitan dengan Pengenter Jagat).
c. Pura Miu di Br. Tangguntiti, dengan makna dan fungsi “Miu sebagai pusat kekuatan pengendali jagat raya”. (ada kaitan dengan simbol Gunung).
d. Pelinggih Sang Penuwen Jagat sebagai pemujaan Ratu Pusering Jagat di Jeroan Gede Jakatebel. (ada kaitan dengan Pengenter Jagat).
8. Dari simbol suci di kedua tempat baik di Br. Gunung maupun di Tangguntiti ada makna dan fungsi yang bersifat sosio religius yakni “Miu” merupakan bahasa kawi (Jawa kuno) yang berarti “Meru”. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa arti kata “Meru” adalah “Gunung”, dalam mitologi Hindu tempat pesemayaman para Dewa dan makhluk kedewaan serta menjadi pusat jagat raya.
9. Akibat pengaruh sosial politik saat itu (ada kecendrungan meniadakan kebesaran / kehebatan Ki Pasek Badak), sehingga saat ini muncul beragam versi kawitan Pasek Badak di Buduk yakni ada 4 (empat) kawitan :
a. Tiga tempat Kawitan Pasek Badak (yang ada keterkaitan pengaruh Raja Puri Mengwi dan ada yang tidak).
b. Satu tempat Kawitan Pasek Badak / Pasek Tohjiwa di Br. Gunung (yang tidak mau tunduk kepada Raja Puri Mengwi).
III. PENDEKATAN ALUR PIKIR
1. Pasek Tohjiwa Tangguntiti adalah Putra Ki Pasek Badak atau Ki Pasek Wanda (sebagai keturunan dari I Gusti Pasek Tohjiwa Dimadya yang merupakan keturunan dari Kyayi I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa) yang tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi, meninggalkan Br. Gunung Buduk menuju Tangguntiti.
2. Keturunan Ki Pasek Badak di Br. Gunung Buduk saat ini adalah keturunan Pasek Tohjiwa yang merupakan generasi ke III Pasek Tohjiwa Tangguntiti dari Jeroaan Gede Jakatebel yang diutus kembali untuk menyelamatkan warisan sejarah Ki Pasek Badak.
3. Kemiripan dan atau keterkaitan makna dan fungsi simbol suci yang ada di Tangguntiti dengan yang ada di Br. Gunung Buduk mempertegas adanya hubungan sosio religius sebagai simbol / ciri bahwa Ki Pasek Badak dan atau Putranya (Pasek Tohjiwa Tangguntiti) adalah seorang kesatria sejati sebagai penguasa / pemimpin wilayah.
4. Adanya Pelinggih Gedong Rong Lima yang disebut “Tetepan” sebagai tempat pemujaan / stana “Ida Bhatara Lelangit” dan atau “Panca Tirtha” mempertegas bahwa Ki Pasek Badak adalah keturunan Pasek Tohjiwa.
5. Memperhatikan simbol suci warian leluhur di Br. Gunung Buduk yang mengandung makna dan fungsi sebagai ciri penguasa / pemimpin wilayah, dan apalagi ada keterkaitannya dengan yang ada di Tangguntiti, maka kuat dugaan bahwa Br. Gunung Buduk pernah sebagai Pusat Kekuasaan Pemerintahan Ki Pasek Badak dan atau Putra Ki Pasek Badak.
6. Berdasarkan semua hal tersebut diatas, kedepan “Pura Gunung Sari” perlu ditingkatkan makna dan fungsinya sebagai “Pura Agung Ki Pasek Badak”, guna menjawab perbedaan tafsir yang berkembang saat ini tentang keberadaan Ki Pasek Badak dalam beragam versi.
7. Untuk menyamakan persepsi perlu kiranya diadakan pengkajiaan lebih dalam karena penulis menelusuri memakai pendekatan logika dari data dan fakta serta makna dan fungsi simbol suci yang ada, sebagai gugahan untuk dibahas lebih lanjut.
a. Penulis menyadari bahwa mengungkap keberadaan masa lampau apalagi ada pengaruh sosial politik saat itu yang ada kecendrungan mengaburkan / meniadakan kebesaran / kehebatan Ki Pasek Badak, sehingga bukan pekerjaan mudah tanpa melalui nuansa “ritma jiwa batiniah” yang sama dalam pendekatan logika dan perenungan batin.
b. Semoga Ida Bhatara Lelangit memberikan sinar suci dan membukakan jalan yang terang agar semua keturunan Ki Pasek Badak bersatu dalam satu kesatuan kebesaran / kehebatan Ki Pasek Badak.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Tangguntiti, 29 Maret 2019
Pengelingsir Jeroan Gede Jakatebel
Ir. I GEDE NYOMAN WIRANATHA, MM.
RINGKASAN SEJARAH PASEK TOHJIWA TANGGUNTITI
https://pasektohjiwatangguntiti-jakatebel.blogspot.com/2019/08/ringkasan-sejarah-pasek-tohjiwa.html